08 April 2013

Merasa Cukup

Dulu kala SD, pulang dan pergi biasa dengan jalan kaki. Rasanya senang sekali. Bareng teman – teman sebaya penuh riang dan canda. Bangga, dunia seakan sama di sana – sini. Menginjak SMP, saya masih setia dengan berjalan kaki. Hanya jarak kian bertambah. Sejauh  4 km saya lahap sekali jalan. Terkadang pengin rasanya punya sepeda seperti teman – teman lain yang bisa pulang – pergi sekolah dengan bersepeda. Saat SMA lain lagi, banyak teman yang pulang – pergi sekolah dengan sepeda motor.
Sementara saya tetap setia dengan langkah kedua kaki lincah ini. Muncul bayangan betapa indahnya bisa bersekolah dengan naik motor. Di samping keren, juga akan mendapat perhatian dan pemujaan dari khalayak. Termasuk lirikan dari lawan jenis. Siapa yang gak pengin? Memasuki dunia kuliah pun serupa. Tatkala diri ini masih seperti dulu, datang mahasiswa lain yang kuliah dengan roda empatnya. Bahkan sampai di dunia kerja pun tak jauh berbeda. Ketika diri mulai menjinjing kaki di pedal sepeda motor, yang lain sudah memanjakan kaki, melaju di sebuah mobil mewah atau deru motor gede barunya.

Begitulah kehidupan bertutur, selalu ada godaan yang mengelilingi manusia pada semua tingkatan, walau dengan varian yang berbeda. Orang selalu bilang, di atas langit ada langit. Tak ada habisnya. Yang miskin, yang menengah dan yang kaya, yang nganggur maupun yang kerja tak terkecuali. Tak ada yang kebal godaan. Pedagang, pengusaha, pegawai, pejabat, petani, tentara, supir, penekun spiritual sampai dengan tukang sapu, tidak sedikit kepalanya yang diisi oleh gambar-gambar hidup agar cepat kaya. Yang jelas, pilihan menjadi kaya tentu sebuah pilihan yang bisa dimengerti. Terutama dengan kaya manusia berpikir bisa melakukan lebih banyak hal. Sebaliknya, emoh menjadi miskin. Sebab miskin identik dengan penderitaan, kekurangan dan ketergantungan. Soal jalur mana untuk menjadi kaya yang akan ditempuh, pilihan yang tersedia juga amat melimpah. Dari mulai berdagang, jualan asuransi, ikut MLM, memimpin perusahaan, jadi pengusaha atau karyawan, sampai dengan jadi pejabat tinggi.


Itulah kesenangan hidup di dunia, sebagaimana Allah pesankan dalam KitabNya; “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). “ (QS Ali Imron : 14). Gelombang pikiran – pikiran seperti itu akan selalu datang mengejar – ngejar manusia setiap saat. Di sisi lain, kesenangan – kesenangan itu selalu hadir menggelayut di bentang samudra angan, menebar pesonanya kepada setiap insan. Laksana hipnotis yang akan terus menyihir manusia untuk masuk ke dalamnya. Bahkan tak jarang jalan - jalan pintas menjadi pilihannya. Rumusnya; pengin instant: serba cepat gak mau lambat, pengin sesegera mungkin gak mau berlama - lama, pengin senang terus tak mau payah dan serba gampang gak mau sulit. Ya, kesenangan yang membujuk. Tak ada yang selamat, kecuali orang  - orang yang eling lan waspada.


Sampai kapan pun, manusia akan terus diombang-ambingkan ombak kehidupan yang bernama keinginan. Sayangnya, banyak yang kandas. Apa yang diinginkan, lain dengan apa yang didapatkan. Alih – alih berpuas diri, malah makin menggila dan lupa diri; senang dunia dan takut akan mati. Oleh karena itu, para penekun kehidupan sering mengingatkan dengan elegannya akan bahaya kehidupan seperti ini. Ada satu hal yang banyak dilupakan orang yaitu pentingnya memiliki rasa cukup.


Dalam bahasa lain, seorang bijak dari timur pernah menganjurkan sebuah jalan kehidupan yang penuh dengan kedamaian, dengan mengatakan: contentment is the greatest wealt - rasa cukup adalah kekayaan terbesar. Tentu agak unik kedengarannya. Asing di telinga. Terutama di zaman yang serba penuh dengan hiruk - pikuk pencarian keluar. Menyebut rasa cukup sebagai kekayaan manusia terbesar, tentu dikira mengada - ada dan bisa dituduh gila. Padahal Kanjeng Nabi Muhammad SAW sudah berabad – abad lalu mengingatkan pentingnya memiliki rasa cukup ini untuk menghadapi dahsyatnya hantaman gelombang samudera kehidupan dunia. Rasulullah SAW bersabda: “Ridlalah dengan apa yang Allah bagikan buatmu, kamu akan menjadi orang terkaya”. (Rowahu Imam Turmudzi 3/377/2407). Apapun jika diliputi dengan rasa cukup, akan tampak luar biasa.  Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda:
“alqana`atu maalun laa yanfadu wa kanzun laa yafnaa”. Artinya: “Qana`ah itu adalah harta yang tak akan hilang dan pura (simpanan) yang tidak akan pernah lenyap.” (Hadis dirawikan oleh Thabrani dari Jabir).

Banyak orang yang mengartikan salah - kaprah maksud rasa cukup di sini. Ada yang mengira menganjurkan kemalasan, ada yang menuduh sebagai antikemajuan. Dan tentu saja tidak dilarang untuk berpikir seperti ini. Hanya, bagi setiap pejalan kehidupan yang sudah mencoba serta berjalan jauh di jalur-jalur "cukup", segera akan mengerti, memang merasa cukuplah kekayaan manusia yang terbesar. Bukan merasa cukup kemudian berhenti berusaha dan bekerja. Sekali lagi bukan. Terutama karena hidup serta alam memang berputar melalui hukum-hukum kerja. Sekaligus memberikan pilihan mengagumkan, bekerja dan lakukan tugas masing-masing sebaik-baiknya, namun terimalah hasilnya dengan rasa cukup. Rasa cukup tak lain adalah perwujudan dari ridha sebagaimana hadits di atas.


Dan ada yang berbeda jauh di dalam sini, ketika tugas dan kerja keras sudah dipeluk dengan perasaan cukup. Tugasnya berjalan, kerja kerasnya juga berputar. Namun rasa syukurnya mengagumkan. Sekaligus membukakan pintu bagi perjalanan kehidupan yang penuh kemesraan. Dalam terang cahaya pemahaman seperti ini, rupanya merasa cukup jauh dari lebih sekadar memaksa diri agar damai. Awalnya, apapun memang diikuti keterpaksaan. Namun begitu merasa cukup menjadi sebuah kebiasaan, menjadi tabiat, terpatri, manusia seperti terlempar dengan nyaman ke dalam hening gelombang samudra kehidupan.

Boleh  miskin, tetapi dengan memiliki rasa cukup yang berlimpah akan merasa syukur yang pol menjadi orang miskin. Istiqomah dengan jalan hidupnya dan bahagia sepanjang waktu. Kemiskinan bukan suatu beban, melainkan pilihan dari Yang Esa. Persis seperti apa yang dikatakan oleh sahabat Abu Darda ra., “Para pemilik harta makan dan kami juga makan, mereka minum dan kami juga minum, mereka berpakaian kami juga berpakaian, mereka naik kendaraan dan kami pun naik kendaraan. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka lihat dan dilihat juga oleh selain mereka, lalu mereka menemui hisab atas harta itu sedang kita terbebas darinya.” (Al-Qana’ah, mafhumuha, manafi’uha, ath-thariq ilaiha, hal 24-30, Ibrahim bin Muhammad al-Haqiil). Yang hidup menengah lagi pas – pasan pun demikian. Jika rasa cukup telah melingkupi, yang ada hanya syukur dan syukur menjalani kehidupan ini dengan riang - gembira. Ibadah mempeng, tirakat banter dan bekerja keras lagi dengan sungguh – sungguh. Rasulullah SAW bersabda; ”Sungguh beruntung (bahagia) orang yang ditunjukkan (diberi hidayah) kepada islam dan diberi rizqi yang pas-pasan dan menerima dengan hal tersebut”. (Rowahu Imam Muslim 2/730/1045; Tirmidzi 4/6/2452; Ibnu Majah 2/13/16/4138).


Adapun yang kaya, jika telah memiliki rasa cukup yang dalam, tak akan terpengaruh dengan kekayaannya. Rasa cukup menyetirnya untuk mengatur kekayaan di jalan – jalan kehidupan ini sesuai aturan dan petunjukNya. Tidak pelit, tidak boros, suka sedekah dan infaq fi sabilillah. Semua kewajiban dilaksanakan dan semua hak – haknya dipenuhi. Sampai – sampai orang pun iri melihatnya. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (Rowahu HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816).

Itulah rasa cukup, kekayaan yang mengagumkan. Dengan rasa cukup yang melimpah dalam hidup yang sebagaimana adanya (bukan yang seharusnya) kita bisa menemukan kehidupan berguna sekaligus pelayanan bermakna buat pihak lain. Keridhaan akan meraja di sini. Memang susah memulainya, apalagi memilikinya. Namun tak perlu ragu, setidaknya kita bisa mulai dengan doa sebagaimana yang Nabi SAW lantunkan; “Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi). Mudah-mudahan kita bisa hidup berkelimpahan rasa cukup, diiringi keridhaan yang dalam sehingga hidup bergelimang kesyukuran, berjalan istiqomah di jalur kebenaran dan mati husnul khotimah. Amin.


SAPMB AJKH

salam, pf   

http://ldii.or.id/in/n/k/1112-merasa-cukup.html

27 Maret 2013

Pengkajian Kitabu Faroid



DPD LDII kab. Jayawijaya melaksanakan Pengkajian Kitabu Faroid (Kitab tentang ilmu pembagian waris) pada tanggal 27 Maret 2013 dan Insya Allah akan berlanjut sampai dengan 31 Maret 2013. Sedangkan pemateri yaitu Ust. Yusuf N dan Ust. Totok Abdilah dari DPW LDII Prov Papua. Kegiatan tersebut diikuti oleh Ustad, Ustadzah, dan warga LDII Jayawijaya. 

LDII adalah organisasi islam yang membedah kajian ilmu waris yang merupakan ilmu langka, banyak umat islam yang awam kepada ilmu ini dan mulai di lupakan.





16 Maret 2013

Berbedakah Cara Ibadah Warga LDII dengan Umat Islam Lainnya ??

Ibadah Orang Islam
Jawabnya TIDAK .. !!
Rukun Islam ada 5, satu di antaranya shalat. Sedangkan dalam shalat ada 13 rukun dimulai Takbiratul Ihram hingga Salam. Dalam shalat wajib 5 waktu, warga LDII juga melaksanakan 13 rukun yang diwajibkan.
Memang sedikit terjadi perbedaan dalam shalat. Itu pun hanya “fur’iyyah” yang tidak perlu didiskusikan.Yakni, mereka tidak “menzaharkan” membaca Bismillah, tetapi hanya “mensirkan” serta tidak membaca doa qunut pada Shalat Shubuh, tetapi mereka tetap mengangkat tangan ketika KH Zulfiqar Hajar memimpin doa usai taushiyah.
Dari perjalanan “Muhibbah Tabayyun” ke 2 Ponpes LDII di Ponpes Wali Barokah Kediri dan Ponpes Gadingmangu di Jombang tidak terlihat sama sekali penyimpangan dalam shalat. Santri-santriwati yang berjumlah 2.000an di setiap Ponpes secara khusyu’ mengikuti setiap prosesing dalam shalat tersebut. Bahkan, imam dalam shalat tersebut hafiz Alquran lulusan Mekkah (Arab Saudi).
Ada keistimewaan kedua Ponpes itu yang (mungkin) tidak dipunyai Ponpes-ponpes milik Ormas Islam lainnya. Yakni, para santri-santriwati membaca Alquran setelah shalat sunnah (rawatib) pada setiap shalat wajib hingga muazzin mengumandangkan qomat.
Selain itu, mereka setiap malam melaksanakan “Shalat Malam” (Shalat Tahajjud) dimulai pukul 02.00-03.00 WIB serta senantiasa mengucapkan “Shallallahu alaihi wasallam” ketika pentaushiyah mengajak bershalawat kepada Rasulullah SAW.
Dalam bidang kebersihan, seharusnya umat Islam mau belajar dengan LDII. Sebab, LDII benar-benar mengamalkan Hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “ “Annazhofatu minal iman” (kebersihan itu bagian dari iman).
Rombongan ulama termasuk wartawan Skala menyaksikan secara langsung, bagaimana kebersihan itu harus senantiasa dijaga. Tidak saja kamar tidur yang bersih dan teratur, bahkan kamar mandi juga sangat bersih dengan nenyediakan sandal/selop serta ada “batasan suci”, sehingga sandal/selop tidak boleh berada di tempat “batasan suci” serta lantai dalam dan luar setiap gedung senantiasa tetap bersih.
Satu hal sangat mengagumkan, usai shalat wajib, rombongan ulama menyaksikan sepatu dan sandal/selop tersusun rapi di anak tangga masjid dalam posisi siap pakai.
Begitu juga kebersihan anak dan pegangan tangga serta lantai yang berada di menara agung Masjid Baitul A’la di Ponpes Wali Barokah Kediri setinggi 99 meter atau 23 lantai (Asmaul Husna) yang di kubahnya terdapat 60 Kg emas murni sangat bersih. Ini terbukti tidak berdebu. Begitu juga lantainya, sehingga rombongan ulama Medan yang naik hingga ke puncak menara tidak merasakan adanya kotoran di tangan dan kaki, karena rombongan hanya “berkaki ayam”.
Selain senantiasa menjaga kebersihan, warga LDII juga sangat disiplin, rukun, kompak dan sangat memuliakan tamu yang berkunjung dengan memberikan fasilitas sangat memadai. Mereka benar-benar mengamalkan Hadits Rasulullah SAW yang maknanya :”Siapa-siapa yang berman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia memuliakan tamu”.
Jadi, tidak mengherankan tetamu datang dari berbagai penjuru nusantara. Tidak saja dari seputaran Pulau Jawa saja, tetapi juga dari pula-pulau lain beragam provinsi da kabupaten/kota datang “bertabayyun” ke dua Ponpes LDII itu.
Dalam pengajaran, para santri-santriwati tidak “alergi” dengan pentaushiyah dari luar LDII. Seperti taushiyah disampaikan KH Amiruddin MS dan Drs H Amhar Nasution MA usai Shalat Shubuh dan Zuhur. Ini artinya, warga LDII sudah bersifat terbuka tidak eksklusif sebagaimana yang terjadi pada paradigma lama. Namun, dengan paradigma baru, mereka lebih terbuka lagi kepada masyarakat umum.
Paradigma baru ini bukan dalam perbaharuan akidah. Mereka tetap mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Mahaesa dan Nabi Muhammad bin Abdullah SAW sebagai Rasul dan utusan Allah, berpegang teguh kepada Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW (Hadits) serta patuh kepada pemimpin dan ulama.
Dalam bidang sosial-kemasyarakatan, baik sebagai tuan rumah maupun peserta, warga LDII ikut aktif. Seperti kegiatan-kegiatan ilmiah dan keagamaan semisal MTQ dan berbagai pelatihan kepemimpinan serta kegiatan lain berupa khitanan massal, penghijauan dan gotong-royong. (HA Ramadhan)
TAUSHIYAH: Ribuan santri-santriwati Ponpes Wali Barokah LDII Kediri terlihat serius dan khusyu’ mendengarkan tauhsiyah Buya KH Amiruddin MS usai Shalat Subuh di Masjid Baitul A’la Ponpes itu, Selasa (14/6). (Foto: Skala/Ramadhan)
ASMAUL HUSNA: Menara Masjid Baitul A’la Ponpes Wali Barokah Kediri mendapatkan julukan menara “Asmaul Husna”, karena berketinggian 99 M dengan 23 lantai. (Foto: Skala/Ramadhan)

15 Maret 2013

KERJA BHAKTI POLRI DI LOKASI PEMBANGUNAN AULA SERBAGUNA (SEKRETARIAT LDII JAYAWIJAYA)


Untuk mendekatkan diri kepada masyarakat, kepolisian resor (Polres) Jayawijaya terus melakukan upaya, salah satunya adalah kerja bhakti di Aula Serbaguna / Sekretariat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Jayawijaya Jumat (18/01/2013)
Kerja bhakti dipimpin langsung Kapolres Jayawijaya, AKBP Fernando S. Napitupulu, S.Ik didampingi Wakapolres Kompol Asfuri S.Ik, dengan melibatkan 60 personil Polres Jayawijaya dan anggota Brimob.
Melalui kegiatan kerja bhakti, Kapolres berharap hubungan masyarakat dengan kepolisian lebih akrab dan menjadi mitra dalam menjaga situasi agar tetap kondusif. “Selaku aparat keamanan, kami terus berusaha agar dapat lebih dekat dengan masyarakat, karena tanpa ada dukungan dari masyarakat, keamanan tidak bisa diwujudkan. Untuk itu kami harapkan agar hubungan yang baik selama ini sudah terbina, tetap dijaga daerah kita tetap aman, nyaman dan kondusif “ lanjut Kapolres.
Ditempat yang sama Wakil Ketua DPD LDII Kab. Jayawijaya, Agus Purwanto menyampaikan terima kasih atas atensi dari Kapolres Jayawijaya melaksanakan kunjungan serta Kerja bhakti dan berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan dan lebih ditingkatkan sehingga hubungan Polri dengan masyarakat lebih dekat.



Kapolres Jayawijaya Berbincang dengan pengurus LDII Jayawijaya




27 November 2010

Foto - Foto Idul Adha 1431 H / 2010 M

Ust. Waluyo menjadi Imam Sholat dan Khatib

suasana setelah sholat ied

pemotongan hewan Qurban

silaturahim ke wakil bupati, John R. Banua

bebagi dengan sesama










Sabar dan Menunggu Dengan Yakin






Oleh: Tegar Chandra

"Pemuda-pemudi begitu banyak hal yang ingin dicapai di usia kami yang masih muda, kesuksesan dalam pendidikan dan bekerja selalu berputar di kepala. Ada yang mencapai dengan mudah dan ada juga dicapai dengan berdarah-darah (eheheh)."

Sabar dan menunggu itu berbeda sayang. Tetapi dalam aplikasinya kedua hal itu tidak bisa kita pisahkan. Karena sesungguhnya dengan sabar kita menjalani orbit yang sudah menunggu untuk kita jalani. Menunggu dengan sabar dari hasil atau amalan yang sudah kita kerjakan bukan berarti PASIF dan LEMPEM. Tetapi menunggu di sini adalah dengan D.U.I.T(Doa Usaha iman*yakin Tawakal : terinspirasi dengan seorang pemudi nun jauh di sana *N.S.V). Menunggu dengan tanpa kesabaran, tanpa iman (yakin), bahkan tanpa usaha tidak membedakan kita dengan anak kecil yang disuapi makan terus, bahkan sampai dia kenyang pun terus disuapi hingga makanannya habis. Padahal dalam proses makan itu kita selain mencari kenyang (heheheh) juga menikmati proses nya, merasakan lunak atau kerasnya lauk pauk, dan nasi, merasakan manis pedas, pahit rasanya. Tetapi ketika kita sudah tidak bisa mengambil atau menikmati proses dalam perjalanannya kita tidak mendapatkan apa-apa selain hasilnya dan itupun jika kita mendapatkan hasilnya. Buuuuuuuuuuu...!!


Menunggu dengan tanpa D.U.I.T juga tidak menjadikan kita proaktif, sigap,dan produktif, yang ada hanya hasil semu dari apa yang kita tunggu. Mengapa iman menjadi hal penting dalam proses menunggu dan bersabar?? Yah karena iman yang menjadi keyakinan adari usaha dan doa, lalu ilmu lah yang menjadi dasar dari semua pengamalan dan praktek, Alquran pun sudah menjelaskan keutamaan ilmu , mencari ilmu dan mengamalkan ilmu. Kalau ilmu dunia menurut survei nya dalam tri wulan mengalami perubahan perkembangan yang cepat, khususnya ilmu Teknologi Informasi, berbeda jauh dengan ilmu agama yang terus menerus merosot. Merosot di sini bukan dari kwalitas atau kandungannya. Ilmu agama adalah POLL POLL nya ilmu ,apa yang di kandung dari agama adalah ilmu sepanjang masa illa yaumil qiyyamah. Merosot disini adalah tingkat penguasaan dan pemahamannya itu sendiri. Padahal pada hakekatnya ilmu agama adalah ilmu yang membimbing, ilmu yang memperingati kita untuk menjalani dan menuju dunia dengan jalan yang benar, tentunya sesuai tuntunan yang murni.

Sebaik-baiknya pembelaan agama itu adalah dengan mengkaji, mempelajari, memahami dan Aplikasi nya di dunia nyata yaitu mengamalkannya dengan benar. Al ilmi ba’da amal (Ilmu dulu baru ngamal/praktek). oleh karena itu sebagai generasi muda kita harus terus menerus koreksi di awal, koreksi di tengah, koreksi di akhir apa yang telah kita amalkan, saling ingat mengingati apa yang sudah kita kerjakan sudah benar atau belum. Jika sudah benar kita bisa tambah yakin dan bersyukur tetapi jika salah kita segera bertobat , memperbaiki kesalahannya dan mengambil hikmahnya.

Tempatkan porsi sebagai warga negara yang muda, cerdas, proaktif dan berbudi luhur. Tetapi tetap kita adalah pemuda-pemudi yang mempunyai kefahaman agama, dimana kita tahu apa yang kita pelajari,kita fahami dan amalkan. Sekalipun dalam proses perjalannya kita tidak mencintai proses tersebut, maka bersabarlah. Ketika kita bersabar dalam menjalaninya, maka di akhirnya kita akan mendapatkan kesuksesan (AMIIIIN...!) dan hasil yang kita cintai, walapun hasil itu berbeda dari apa yang kita harapkan (ngomong apalagi nulis emang gampang siih tapi dalam prakteknya sama-sama susah...ehehe).

Mengikuti perkembangan juga bukan sesuatu hal yang buruk JIKA dilihat dari efisiensi dan fungsionalitas waktu yang di gunakan. Jika perkembangan menjadikan kita pemuda-pemudi yang malas dan pemimpi unggul (bukan pemimpin looh), lalu dimana keutamaan pemuda-pemudi yang berilmu, berakhlakul qarimah dan mandiri?! Perkembangan itu diikuti agar menjadikan kita sebagai pemuda-pemudi yang berwawasan luas, lugas tetapi tidak NGASAL. Menjadikan taat dan berilmu sebagai senjata massal kita untuk terjun dalam perkembangan yang begitu cepat. Menjadikan kita terjaga dari perkembangan-perkembangan yang sudah kita ketahui HAK & BATIL sesuai tuntunan. Tetap sabar dan yakin bahwa semua sudah ada yang merencanakan, tetapi bukan hanya menunggu jalannya. Jalan dan hasilny tetap kita cari dengan Doa Usaha iman dan Tawaqal.

Alhamdulillah jazakumullohu khioron


Tantangan dan harapan dialamatkan kepada Pengurus DPD LDII Kab. Jayawijaya Periode 2010 - 2015 bersamaan dengan terbitnya Surat Keputusan No. KEP-05/Z/XI/2010 tanggal 10 Nov 2010 oleh DPD Prov Papua. Dengan demikian "amal sholeh" tiap pengurusnya menjadi lebih jelas. Semoga ke depan menjadi lebih baik dan mendapatkan balasan dari Alloh SWT. Amin